Daftar Isi
Daftar isi ................................................................... 1
Konsep-konsep
.................................................................. 2
Pegenalan terhadap batang
...................................................................
3
Bagian Batang ..................................................................
6
Bentuk Batang ..................................................................
6
Arah tumbuh batang
...................................................................7
Percabangan pada batang ...................................................................
8
Modifikasi batang
.................................................................
10
Daftar pustaka
.................................................................
13
Konsep-Konsep
Bagian batang
Bentuk
batang
Arah tumbuh
batang
Percabangan
pada batang
Modifikasi
batang
Pembahasan Konsep
1)
Pegenalan terhadap batang ( sifat,
fungsi dan macam-macam batang )
Batang atau
caulis merupakan bagian tumbuhan yang menyokong tubuh tumbuhan. Pada umumnya
bentuk batang adalah bulat/silinder atau bentuk lain dan selalu aktinomorf.
Batang mempunyai ruas-ruas dan buku-buku. Batang tumbuh ke atas menuju cahaya
matahari (fototrop/heliotrope). Selain itu batang umumnya mengalami pertumbuhan
yang tak terbatas.
Pada umumnya
batang mempunyai sifat-sifat berikut:
a. Pada umumnya berbentuk panjang bulat
seperti silinder atau dapat pula mempunyai bentuk lain, akan tetapi selalu
bersifat aktinomorf, artinya dapat dengan sejumlah bidang dibagi menjadi
dua bagian yang setangkup.
b. Terdiri atas ruas-ruas yang
masing-masing dibatasi oleh buku-buku, dan pada buku-buku inilah terdapat daun.
c. Tumbuhnya biasanya ke atas, menuju
cahaya atau matahari (bersifat fototrop atau heliotrop).
d. Selalu bertambah panjang di
ujungnya. Oleh sebab itu sering dikatakan bahwa batang mempunyai pertumbuhan yang tidak terbatas.
e. Mengadakan percabangan dan selama
hidupnya tumbuhan tidak digugurkan, kecuali kadang- kadang cabang atu ranting-ranting kecil.
f. Umumnya tidak berwarna hijau,
kecuali tumbuhan yang umurnya pendek, misalnya rumput dan waktu batang masih
muda.
Sebagai
bagian tumbuhan, batang mempunyai tugas untuk :
a. Mendukung bagian-bagian tumbuhan
yang ada di atas tanah, yaitu daun, bunga dan buah.
b. Dengan percabangannya memperluas
bidang asimilasi, dan menempatkan bagian-bagian tumbuhan di dalam ruang
sedemikian rupa, hingga dari segi kepentingan tumbuhan bagian-bagian tadi
terdapat dalam posisi yang paling menguntungkan.
c. Jalan pengangkutan air dan zat-zat
makanan dari bawah ke atas dan jalan pengangkutan hasil-hasil asimilasi dari
atas ke bawah.
d. Menjadi tempat penimbunan zat-zat
makanan cadangan.
Jika kita
membandingkan berbagai jenis tumbuhan, ada di antaranya yang jelas kelihatan
batangnya, tetapi ada pula yang tampaknya tidak berbatang. Oleh sebab itu kita
membedakan macam-macam batang:
a. Tumbuhan yang tidak berbatang (planta
acaulis).
Tumbuh-tumbuhan yang benar tidak berbatang sesungguhnya tidak ada, hanya
tampaknya saja tidak ada. Hal itu disebabkan karena batang amat pendek,
sehingga semua daunnya seakan-akan keluar dari bagian atas akarnya dan tersusun
rapat satu sama lain merupakan suatu roset (rosula), seperti misalnya
lobak (Raphanus sativus L.), sawi (Brassica juncea L.). Tumbuhan
semacam ini akan memperlihatkan batang dengan nyata pada waktu berbunga. Dari
tengah-tengah roset daun akan muncul batang yang tumbuh cepat dengan daun-daun
yang jarang-jarang, bercabang-cabang, dan mendukung bunga-bunganya.
b. Tumbuhan yang jelas berbatang.
Yaitu tumbuhan yang jelas-jelas kelihatan batangnya seperti kita
menjumpai pada umumnya tumbuhan.
Batang
tumbuhan dapat dibedakan seperti berikut:
1. Batang basah (herbaceous),
yaitu batang yang lunak dan berair, misalnya pada bayam (Amaranthus spinosus
L.), krokot (Portulacaoleracea L.), pisang (Musaparadiciaca L.)
Gambar batang
basah:
2. Batang berkayu (lignosus), yaitu batang
yang biasa keras dan kuat, karena sebagian besar terdiri
atas kayu, yang terdapat pada pohon-pohon (arbores) dan semak-semak (frutices)
pada umumnya.
Pohon adalah tumbuhan yang tinggi
besar, batang berkayu dan bercabang jauh dari permukaan tanah, sedang semak
adalah tumbuhan yang tak seberapa besar, batang berkayu, bercabang-cabang dekat
permukaan tanah atau malahan dalam tanah. Contoh pohon: mangga (Mangifera
indica L.), semak: sidaguri (Sida rhombifolia L.).
Gambar batang berkayu:
2. Batang rumput (calmus), yaitu
batang yang tidak keras, mempunyai ruas-ruas yang nyata dan seringkali
berongga, misalnya pada padi (Oryza sativa L.) dan rumput (Gramineae)
pada umumnya.
Gambar
batang rumput:
4. Batang mendong (calamus),
seperti batang rumput, tetapi mempunyai ruas-ruas yang lebih panjang, misalnya
pada mendong (Fimbristylisglobulosa Kunth.), wlingi (Scirpus grossus
L.) dan tumbuhan sebangsa teki (Cyperaceae) lainnya.
Gambar batang mendong:
2) Bagian
Batang
1. Meristem apikal
Meristem
yang terdapat pada ujung akar dan pada ujung batang. Selalu menghasilakan
sel-sel untuk tumbuh memanjang.
Gambar.Bagian-bagian
batang
Nodus
Bagian batang tempat tumbuh daun dan
tunas.
Tunas
Bagian tumbuhan yang baru tumbuh
dari kecambah/ kuncup yang berada diatas permukaan tanah / media.
Daun
Salah satu organ tumbuhan yang
tumbuh dari batang umumnya berwarna hijau.
3)
Bentuk Batang
Tumbuhan
biji belah (Dycotyledoneae) pada umumnya mempunyai batang yang di bagian
bawahnya lebih besar dan ke ujung semakin mengecil, jadi batangnya dapat
dipandang sebagai suatu kerucut atau limas yang amat memanjang, yang dapat
mempunyai percabangan atau tidak. Tumbuhan biji tunggal (Monocotyledoneae)
sebaliknya mempunyai batang yang dari pangkal sampai ke ujung boleh dikata tak
ada perbedaan besarnya. Hanya pada beberapa golongan saja yang pangkalnya
tampak membesar, tetapi selanjutnya ke atas tetap sama, seperti terlihat pada
bermacam-macam palma (Palmae).
Jika kita
berbicara tentang bentuk batang biasanya yang dimaksud ialah bentuk batang pada
penampang melintangnya. Dan dilihat dari sudut bentuk penampang melintangnya
ini dapat dibedakan bermacam-macam bentuk batang antara lain:
a. Bulat (teres), misalnya bambu
(Bambusa sp.), kelapa (Cocos nucifera L.).
b. Bersegi (angularis). Dalam
hal ini ada kemungkinan:
Bangun segitiga (triangularis),
misalnya batang teki (Cyperus rotundus).
Segi empat (quadrangularis), misalnya batang
markisah
c. Pipih dan biasanya lalu melebar
menyerupai daun dan mengambil alih tugas daun pula. Batang yang bersifat
demikian dinamakan:
Filokladia (phyllocladium), jika amat pipih dan
mempunyai pertumbuhan yang terbatas, misalnya pada Jakang (Muehlenbeckia
platyclada Meissn.),
Kladodia (Cladodium), jika
masih tumbuh terus dan mengadakan percabangan, misalnya sebangsa kaktus (Opuntia
vulgaris Mill.).
Dilihat
permukaannya, batang tumbuh-tumbuhan juga memperlihatkan sifat yang
bermacam-macam. Kita dapat membedakan permukaan batang yang:
- Licin (laevis), misalnya batang jagung (Zea mays L.),
- Berusuk (costatus), jika pada permukaannya terdapat rigi-rigi yang membujur, misalnya iler (Coleus scutellarioides Benth.),
- Beralur (sulcatus), jika membujur batang terdapat alur-alur yang jelas, misalnya pada Cereus peruvianus (L.) Haw.
- Bersayap (alatus), biasanya pada batang yang bersegi, tetapi pada sudut-sudutnya terdapat pelebaran yang tipis, misalnya pada ubi (Dioscorea alata L.) dan markisah (Passiflora quadrangularis L.).
Selain dari
itu permukaan batang dapat pula :
- Berambut (pilosus), seperti misalnya pada tembakau (Nicotiana tabacum L.),
- Berduri (spinosus), misalnya pada mawar (Rosa sp),
- Memperlihatkan bekas-bekas daun, misalnya pada papaya (Carica papaya L.) dan kelapa (Cocos nucifera L.),
- Memperlihatkan bekas-bekas daun penumpu, misalnya: nangka (Artocarpus integra Merr.), keluwih (Artocarpus comunis Forst.),
- Memperlihatkan banyak lentisel, misalnya pada sengon (Albizzia stipulate Boiv.),
- Keadaan-keadaan lain, misalnya lepasnya kerak (bagian kulit yang mati) seperti terlihat pada jambu biji (Psidium guajava L.) dan pohon kayu putih (Melaleuca leucadendron L.)
4) Arah tumbuh
batang
Walaupun
seperti telah dikemukakan, batang umumnya tumbuh ke arah cahaya, meninggalkan
tanah dan air, tetapi mengenai arahnya dapat memperlihatkan variasi, dan
bertalian dengan sifat ini dibedakan batang yang tumbuhnya:
a. Tegak lurus (erectus), yaitu
jika arahnya lurus ke atas, misalnya papaya (Carica papaya L.),
b. Menggantung (dependens, pendulus),
ini tentu saja hanya mungkin untuk tumbuh-tumbuhan yang tumbuhnya di
lereng-lereng atau tepi jurang, misalnya Zebrina pendula Schnitzl., atau
tumbuh-tumbuhan yang hidup di atas pohon sebagai epifit, misalnya jenis anggrek
(Orchidaceae) tertentu.
c. Berbaring (humifusus), jika
batang terletak pada permukaan tanah, hanya ujungnya saja yang sedikit
membengkok ke atas, misalnya pada semangka (Citrullus vulgaris Schrad.),
d. Menjalar atau merayap (repens),
batang berbaring tetapi dari buku-bukunya keluar akar-akar, misalnya batang ubi
jalar (Ipomoea batatas Poir.).
e. Serong ke atas atau condong (ascendens),
pangkal batang seperti hendak berbaring, tetapi bagian lainnya lalu membelok ke
atas, misalnya pada kacang tanah (Arachis hypogaea L).
f. Mengangguk (nutans), batang
tumbuh tegak lurus ke atas, tetapi ujungnya lalu membengkok kembali ke bawah,
misalnya pada bunga matahari (Helianthus annuus L.),
g. Memanjat (scandens), yaitu
jika batang tumbuh ke atas dengan menggunakan penunjang. Penunjang dapat berupa
benda mati ataupun tumbuhan lain, dan pada waktu naik ke atas batang
menggunakan alat-alat khusus untuk “berpegangan” pada penunjang ini, misalnya
dengan:
Akar pelekat, contohnya sirih (Piper betle L.),
Akar pembelit, misalnya panili (Vanilla planifolia
Andr.),
Cabang pembelit (sulur dahan), misalnya anggur (Vitis
vinifera L.),
Daun pembelit atau sulur daun, misalnya kembang
sungsang (Gloriosa superba L.),
Tangkai pembelit, misalnya pada kapri (Pisum
sativum L.),
Duri, misalnya mawar (Rosa sp), bugenvil (Bougainvillea
spectabilis Willd.),
Duri daun, misalnya rotan (Calamus caesius
Bl.),
Kait, misalnya gambir (Uncaria gambir Roxb.).
h. Membelit (volubilis), jika
batang naik ke atas dengan menggunakan penunjang seperti batang yang memanjat,
akan tetapi tidak dipergunakan alat-alat yang khusus, melainkan batangnya
sendiri naik dengan melilit penunjangnya. Menurut arah melilitnya dibedakan
lagi batang yang:
Membelit ke kiri (Sinistrorsum volubilis), jika
dilihat dari atas arah belitan berlawanan dengan arah putaran jarum jam. Dapat
pula dikatakan demikian: jika kita mengikuti jalannya batang yang membelit itu,
penunjang akan selalu di sebelah kiri kita. Batang yang membelit ke kiri
misalnya pada kembang telang (Clitoria ternatea L.),
Membelit ke kanan (Dextrorsum volubilis). Jika
arah belitan sama dengan arah gerakan jarum jam, atau jika kita mengikuti arah
belitan, penunjang akan selalu di sebelah kanan kita. Batang tumbuhan yang
membelit ke kanan tidak banyak ditemukan, contoh: gadung (Dioscorea hispida
Dennst.).
5) Percabangan
pada batang
Batang suatu tumbuhan ada yang bercabang ada yang tidak, yang tidak
bercabang kebanyakan dari golongan tumbuhan yang berbiji tunggal (Monocotyledoneae),
misalnya jagung (Zea mays L.). Umumnya batang memperlihatkan
percabangan, entah banyak entah sedikit.
Cara percabangan ada bermacam-macam,
biasanya dibedakan 3 macam cara percabangan, yaitu:
1. Cara percabangan monopodial, yaitu jika batang pokok
selalu tampak jelas, karena lebih besar dan lebih panjang (Lebih cepat
pertumbuhannya) daripada cabang-cabangnya misalnya pohon cemara (Casuarina
equisetifolia L.),
2. Percabangan simpodial, batang pokok sukar ditentukan,
karena dalam perkembangan selanjutnya mungkin lalu menghentikan pertumbuhannya
atau kalah besar dan kalah cepat pertumbuhan dibandingkan dengan cabangnya,
misalnya pada sawo manila (Achras zapota L.),
3. Percabangan menggarpu atau dikotom, yaitu cara
percabangan, yang batang setiap kali menjadi dua cabang yang sama besarnya,
misalnya paku andam (Gleichenia linearis Clarke).
Cabang yang besar yang biasanya langsung keluar dari batang pokok
lazimnya disebut dahan (ramus), sedang cabang-cabang yang kecil
dinamakan ranting (ramulus).
Cabang-cabang pada suatu tumbuhan
dapat bermacam-macam sifatnya, oleh sebab itu cabang-cabang dapat dibedakan
seperti di bawah ini:
a.
Geragih (flagellum,
stolo),
yaitu cabang-cabang kecil panjang
yang tumbuh merayap, dan dari buku-bukunya ke atas keluar tunas baru dan ke
bawah tumbuh akar-akar. Tunas pada buku-buku ini beserta akar-akarnya
masing-masing dapat terpisah merupakan suatutumbuhan baru. Cabang yang demikian
ini dibedakan lagi dalam dua macam:
Merayap di atas tanah, misalnya pada daun kaki kuda (Centellaasiatica
Urb.) dan arbe (Fragraria vesca
L.),
Merayap di dalam tanah, misalnya teki (Cyperus rotundus L.), kentang
(Solanum tuberosum L.).
b. Wiwilan atau tunas air (virga singularis),
yaitu cabang yang biasanya tumbuh cepat dengan ruas-ruas yang panjang,
dan seringkali berasal dari kuncup yang tidur atau kuncup-kuncup liar.
Seringkali terdapat pada kopi (Coffea sp.) dan pohon coklat (Theobroma
cacao L.),
c. Sirung panjang (virga),
yaitu cabang-cabang yang biasanya merupakan pendukung daun-daun, dan
mempunyai ruas-ruas yang cukup panjang. Pada cabang-cabang demikian ini tidak
pernah dihasilkan bunga, oleh sebab itu sering disebut pula cabang yang mandul
(steril),
d. Sirung pendek (virgula atau virgula
sucrescens), yaitu cabang-cabang kecil dengan ruas- ruas yang pendek yang selain daun biasanya
merupakan pendukung bunga dan buah. Cabang yang dapat menghasilkan alat
perkembangbiakan bagi tumbuhan ini disebut pula cabang yang subur (fertil).
Cabang-cabang pada suatu tumbuhan biasanya membentuk sudut yang tertentu
dengan batang pokoknya. Bergantung pada besar kecilnya sudut ini, maka arah
tumbuh cabang menjadi berlainan.
Umumnya orang membedakan arah tumbuh
cabang seperti berikut:
a.
Tegak (fastigiatus),
yaitu jika sudut antara batang dan cabang amat kecil, sehingga arah
tumbuh cabang hanya pada pangkalnya saja sedikit serong ke atas, tetapi
selanjutnya hampir sejajar dengan batang pokoknya, misalnya wiwilan pada kopi (Coffea
sp.),
b.
Condong ke
atas (patens),
jika cabang dengan batang pokok membentuk sudut kurang lebih 450,
misalnya pada pohon cemara (Casuarina equisetifolia L.),
c.
Mendatar (horizontalis),
jika cabang dengan batang pokok membentuk sudut sebesar kurang lebih 900C,
misalnya pada pohon randu (Ceiba pentandra Gaertn.),
d.
Terkulai (declinatus),
jika cabang pada pangkalnya mendatar, tetapi ujungnya lalu melengkung ke
bawah, misalnya kopi robusta (Coffea robusta Lindl.),
e.
Bergantung (pendulus),
cabang-cabang yang tumbuhnya ke bawah, misalnya cabang-cabang tertentu
pada Salix.
Mengenai soal batang, selain yang telah diuraikan di muka, ada
bermacam-macam tumbuhan yang mempunyai pangkal batang di dalam tanah, yang
dapat merupakan suatu alat untuk menahan kala yang buruk. Tumbuhan yang
mempunyai batang yang demikian itu, dalam musim buruk, misalnya di daerah panas
dalam musim kering (di daerah iklim sedang dalam musim dingin), bagian yang di
atas tanah seringkali mati, tetapi bagian yang dalam tanah tetap hidup, dan
jika musim baik telah tiba, akan bertunas menghasilkan tumbuhan yang baru.
Pangkal batang dalam tanah yang berguna untuk mengarungi kala yang buruk itu
disebut caudex, terdapat misalnya pada valerian (Valeriana
officinalis L.), klembak (Rheum officinale B.).
Dalam membicarakan perihal pangkal batang yang menjadi alat untuk
mempertahankan kehidupan tumbuhan pada masa yang buruk, dapat diketahui bahwa
batang tumbuhan mempunyai umur yang terbatas. Karena kalau batang mati,
biasanya tumbuhannya pun mati, maka tumbuhan seringkali dibeda-bedakan menurut
panjang atau pendek umurnya, yaitu dalam:
1.Tumbuhan annual (annuus),
yaitu tumbuhan yang umurnya pendek, umurnya kurang dari satu tahun sudah
mati atau paling banyak dapat mencapai umur setahun. Dalam golongan ini
termasuk bermacam-macam tanaman yang di dunia pertanian terkenal sebagai
tanaman palawija, missal jagung (Zea mays L.), kedele (Soja max
Piper), kacang tanah (Arachis hypogaea L.), dll. Untuk menunjukkan sifat
ini, dalam buku-buku pelajaran dicantumkan tandadibelakang
nama tumbuhannya.
2.Tumbuhan biennial (dua tahun) (biennis),
yaitu tumbuhan yang untuk hidupnya, mulai tumbuh sampai
menghasilkan biji (keturunan baru) memerluikan waktu dua tahun. Sifat ini
sering di tunjukkan dengan tanda , misalnya biet (Beta vulgaris
L.), digitalis (Digitalis purpurea L.).
3.Tumbuhan menahun atau tumbuhan
keras,
yaitu yang dapat mencapai umur sampai bertahun-tahun belum juga bmati,
bahkan ada yang yang dapat mencapai umur sampai ratusan tahun. Untuk golongan
pohon-pohon dan semak-semak, sifat ini ditunjukkan dengan tanda planet
Saturnus, sedang untuk tanda terna (herba) yang berumur panjang, sifat ini
ditunjukkan denan tanda planet Jupiter, yaitu tanda X. Terna yang berumur
panjang biasanya mempuyai bagian di bawah tanah yang selalu hidup, walaupun
bagiannya yang di atas tanah yang selalu hidup, walaupun bagiannya yang di atas
tanah telah mati, misalnya: empon-empon (Zingiberaceae).
6) Modifikasi
batang
Batang
yang bentuknya berubah disebut batang yang telah mengalani modifikasi. Batang
dapat terspesialisasi serta termodifikasi bentuknya untuk keperluan tugas
khusus seperti menimbun cadangan makanan dan untuk fotosintesis.
Pada batang, buku adalah tempat melekatnya daun pada batang, dan batang diantara 2 daun berurutan disebut ruas. Kuncup yang terletak pada ujung batang disebut kuncup terminal. Bersama kuncup aksilar, kuncup terminal akan menentukan bentuk dari percabangan.
Beberapa modifikasi batang antara lain:
Pada batang, buku adalah tempat melekatnya daun pada batang, dan batang diantara 2 daun berurutan disebut ruas. Kuncup yang terletak pada ujung batang disebut kuncup terminal. Bersama kuncup aksilar, kuncup terminal akan menentukan bentuk dari percabangan.
Beberapa modifikasi batang antara lain:
a. Stolon / Geragih
Stolon adalah batang horizontal panjang yang menjalar di atas atau dalam tanah maupun air. Pada buku-buku batangnya tumbuh tunas dan membentuk akar. Setelah beberapa waktu tanaman ini tumbuh memanjang dan menjauhi induknya lalu membengkok ke atas membentuk individu baru. Cabang yang demikian itu dibedakan menjadi :
1. Cabang yang Merayap di Atas Tanah
Misalnya pada daun kaki kuda ( Centella asiatica ) dan arbei ( Fragraria
vesca ).
2. Cabang yang Merayap di Bawah Tanah
Misalnya teki ( Cyperus rotundus )
3. Cabang yang Merayap di Bawah Air
Dapat dijumpai misalnya pada eceng gondok ( Eichornia crassipes )
b. Rhizoma / Rimpang
Rimpang adalah batang di bawah tanah yang tumbuh horisontal dan biasanya bercabang, berbuku, beruas, daun yang melekat pada buku berbentuk sisik yang tipis seperti selaput dan warnanya tidak hijau. Rimpang . Rimpang merupakan tempat penimbunan zat-zat makanan cadangan, contohnya antara lain pada tanaman tasbih(Canna edulis Ker), kerut (Maranta arundina L) dan iris
Rimpang merupakan organ modifikasi batang bukan akar dengan ciri sebagai berikut:
1. berdaun, tetapi daun melekat pada buku, telah menjelma menjadi sisik-sisik yang tipis seperti selaput dan tidak hijau.
2. Mempunyai kuncup-kuncup
3. Tumbuhnya tidak ke pusat bumi atau air, kadang ke atas dan muncul ke tanah
c. Umbi Batang
Batang dapat terspesialisasi serta termodifikasi bentuknya untuk keperluan tugas khusus seperti menimbun cadangan makanan dan untuk fotosintesis. Umbi batang merupakan salah satu bentuk modifikasi batang yang berguna untuk menyimpan cadangan makanan. Umbi batang merupakan pembengkakan batang yang di dalamnya terdapat jaringan yang digunakan untuk menyimpan zat cadangan makanan. Ciri dari umbi batang adalah :
1. Berada di bawah permukaan tanah
2. Terdapat tunas
3. Batang menebal namun tidak tertutup daun sisik
4. Buku pada kuncup tiap ketiak tetap tampak .
Contoh dari umbi batang adalah Kentang ( Solanum tuberosum ). Pada pangkal batang kentang diatas tanah, tumbuh sejumlah geragih yang memasuki tanah dan menjadi panjang. Di saat
kegiatan meristem apeks di ujung geragih terhenti sehinnga tidak bertambah panjang. Sebagian tumbuh menjadi umbi kentang. Perbanyakan vegetative dapat dilakukan dengan menanam sebagian batang dengan tunas ketiaknya.
d.Umbi Lapis
Umbi ini terselubung oleh lapisan luar yang kering dan tipis seperti selaput. Penutup yang dinamakan tunika, berperan sebagai pelindung terhadap kekeringan dan luka mekanik terhadap umbi. Sisik berdaging tersusun sebagai lapisan continue dan konsentris sehingga berstruktur padat. Umbi lapis jika ditinjau asalnya adalah penjelmaan batang beserta daunnya. Dinamakan umbi lapis karena memperlihatkan susunan yang berlapis-lapis yaitu yang terdiri dari daun-daun yang telah menjadi tebal, lunak dan berdaging, merupakan bagian umbi yang menyimpan zat cadangan, sedang batangnya hanya bagian yang kecil pada bagian bawah umbi lapis itu. Contoh pada bawang merah ( Allium cepa ).
e. Kormus
Terdiri dari batang pendek dan gemuk yang berorientasi vertical dalam tanah dan diselubungi sisik ( daun ) kering. Kormus dapat menghasilkan anak kormus yang disebut kormel yang merupakan tunas yang berkembang di ketiak daun pada kormus induk. Seringkali kormel terdapat di ujung sumbu batang yang tergolong geragih . Pada kormus dapat dibedakan ruas dan buku. Sebagian besar kormus terdiri dari parenkim yang berisi cadangan makanan. Pada kormus yang dewasa, dasar daun kering bertahan pada buku-buku dan menyelubungi serta menutupi kormus. Tutup atau tunika ini melindungi kormus terhadap luka dan kekeringan. Di setiap buku kormus terdapat kuncup ( tunas ) ketiak. Contoh tanaman yang berkormus aalah Gladiolus gandavensis.
f. Umbi Sisik
Umbi ini tidak memiliki penutup kering. Sisik terpisah dan tidak sama tingginya serta semua melekat pada papan basal. Pada umumnya umbi sisik ini mudah rusak dan perlu dirawat agar tetap lembab, sebab akan luka jika kekeringan. Pada waktu panen tampak bahwa pada umbi terdapat priordium akar. Akar ini tidak akan mengalami pemanjangan sebelum ditanam
pada lingkungan yang sesuai. Contoh tumbhan dengan umbi sisik adalah pada tanaman bunga lili ( Lilium longiflorum ).
g. Umbi Semu
Umbi semu atau pseudobulbus sering ditemukan pada tanaman anggrek epifit. Pseudobulbus ini digunakan untuk menyimpan air.
DAFTAR PUSTAKA
Tjitrosoepomo, G 1992. Morfologi Tumbuhan. Gadjah mada University Press. (hal 242-253).
Pudjoarinto A. 1986. Sitematika tumbuhan. Laboratorium taksonomi tumbuhan. Fakultas
Biologi UGM Yogykarta. (hal 45-53)
Sumardi I. & Pudjoarinto A. 1992. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Fakultas
Biologi UGM Yogykarta.
Poppy K. Devi dan Sri
Anggraeni, Ilmu Pengetahuan Alam 4, Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen
Pendidikan Nasional, 2008, hlm. 38
Heri Sulistyanto dan Edi Wiyono, Ilmu Pengetahuan Alam
4, Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, 2008, hlm. 29
RSS Feed
Twitter
03.59
Unknown