pantun
pantun
KATA PENGANTAR
Puji Syukur
marilah kita ucapkan kehadirat Allah Swt. berkat rahmat dan ridho-Nya penulis
dapat menyelesaikan karya tulis tentang UPAYA UNTUK MENGETAHUI TENTANG PANTUN
DAN SEJARAH PANTUN DENGAN METODE PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA. Karya tulis ini diajukan sebagai salah satu syarat tugas mata pelajaran
Bahasa Indonesia.
Penulis menyadari pada saat penulisan karya tulis ini tidak terlepas dari bimbingan dan bantuan dari segala pihak. karena
itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Bahasa dan Sastra Indonesia, dan
kepada teman-teman yang telah membantu sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih banyak terdapat
kekurangan dan kesalahan. untuk itu diharapkan kritikan dan saran yang bersifat
membangun untuk kesempurnaan karya tulis ini. Demikian
kiranya semoga laporan yang telah dibuat ini dapat memberikan manfaat bagi
pengembangan dan peningkatan ilmu pengetahuan.
Panai hulu, 2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...........................................................................................
i
DAFTAR ISI..........................................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 1
A. Latar Belakang....................................................................................... 1
B. Permasalahan.........................................................................................
1
C. Tujuan....................................................................................................
1
BAB II PEMBAHASAN......................................................................................
2
A. Pengertian
Pantun..................................................................................
2
B. Sejarah Pantun.......................................................................................
3
BAB III CIRI-CIRI
PANTUN ............................................................................
4
A. Ciri-Ciri Pantun..................................................................................... 4
B. Syarat-syarat Pantun
..............................................................................4
BAB IV JENIS-JENIS
PANTUN ....................................................................... 5
A.
Jenis-Jenis
Pantun.................................................................................
5
BAB V PENUTUP................................................................................................ 8
A. Kesimpulan
...........................................................................................
8
B. Saran.......................................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................
9
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pantun merupakan sastra lisan yang dibukukan pertama
kali oleh Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda Riau, seorang sastrawan yang hidup
sezaman dengan Raja Ali Haji. Antologi pantun yang pertama
itu berjudul Perhimpunan Pantun-pantun melayu. Genre pantun
merupakan genre yang paling bertahan lama.
Mengungkapkan perasaan tidak
hanya dapat diceritakan dan ditulis dalam bentuk prosa. Ungkapan perasaan pun
dapat dinyatakan dalam bentuk puisi, seperti puisi lama yang disebut pantun.
Selain pantun, masih ada bentuk puisi lama lainnya, seperti pantun kilat (karmina),
talibun, seloka, gurindam, dan syair.
Pantun sudah dikenal masyarakat
Indonesia sejak dahulu. Misalnya, wawangsalan, paparikan, sisindiran, sesebred
dalam masyarakat sunda; pantun ludruk, dan gandrung dalam masyarakat jawa;
serta ende-ende dalam masyarakat Mandailing. Bahkan, di sebagian daerah
Sumatra, masyarakat Minangkabau menggunakan pantun sebagai pembuka acara di
perayaan-perayaan. Selain
dibaca, pantun juga kerap dinyanyikan.
B. Permasalahan
- Apakah Pengertian pantun?
- Bagaimanakah sejarah pantun?
- Bagaimanakah ciri-ciri pantun?
- Bagaimanakah syarat-syarat pantun?
- Apa sajakah jenis-jenis pantun?
C. Tujuan
- Mengetahui Pengertian pantun.
- Mengetahui sejarah pantun.
- Mengetahui ciri-ciri pantun.
- Mengetahui syarat-syarat pantun.
- Mengetahui jenis-jenis pantun.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pantun
Dalam
pengertian umum, pantun merupakan salah satu bentuk sastra rakyat yang
menyuarakan nilai-nilai dan kritik budaya masyarakat. Pantun adalah puisi asli
Indonesia (Waluyo,1987:9). Pantun juga terdapat dalam beberapa sastra daerah di
Indonesia seperti “parika” dalam sastra jawa atau “paparikan”
dalam sastra sunda. Orang yang pertama kali membentangkan pikiran dari
hal pantun Indonesia ini adalah H.C. Klinkert dalam tahun 1868. Karangannya
bernama “De pantuns of minnenzangen der Maleier”. Sesudah itu datang
Prof. Pijnapple; juga beliau memaparkan pikirannya dari hal ini dalam tahun
1883. Pantun tepat untuk suasana tertentu, seperti halnya juga karya seni
lainnya hanya tepat untuk suasana tertentu pula.
Menurut Surana (2001:31), pantun ialah bentuk puisi lama yang terdiri atas 4
larik sebait berima silang (a b a b). Larik I dan II disebut sampiran,
yaitu bagian objektif. Biasanya berupa lukisan alam atau apa saja yang dapat
diambil sebagai kiasan. Larik III dan IV dinamakan isi, bagian subjektif. Sama
halnya dengan karmina, setiap larik terdiri atas 4 perkataan. Jumlah suku kata
setiap larik antara 8-12. Namun, dalam buku Bahan Ajar Sastra Rakyat (2005:70)
mengatakan bahwa:
Pantun adalah puisi melayu tradisional yang paling
popular dan sering dibincangkan. Pantun adalah ciptaan asli orang Melayu; bukan
saduran atau penyesuaian dari puisi-puisi jawa, India, cina dan sebagainya.
kata pantun mengandung arti sebagai, seperti, ibarat, umpama, atau laksana.
Sedangkan dalam Kamus Istilah
Sastra (2006:173) menjelaskan bahwa:
Pantun adalah Puisi Indonesia (Melayu), tiap bait (kuplet)
biasa terdiri atas empat baris yang bersajak (a-b-a-b) tiap larik
biasanya berjumlah empat kata; baris pertama dan baris kedua biasanya tumpuan (sampiran)
saja dan baris ketiga dan keempat merupakan isi; setiap baris terdiri dari 8-12
suku kata; merupakan peribahasa sindiran; jawab (pada tuduhan dan sebagainya)
Menurut penulis, pantun merupakan salah satu jenis puisi lama dalam kesusastraan
Melayu Nusantara yang paling popular. Pada umumnya setiap bait terdiri atas
empat baris (larik), tiap baris terdiri atas 8-12 suku kata, berirama a-b-a-b
dengan variasi a-a-a-a. Baris pertama dan kedua adalah sampiran,
sedangkan baris ketiga dan keempat adalah isi.
B. Sejarah Pantun
Pada mulanya pantun merupakan senandung atau puisi rakyat yang dinyanyikan
(Fang, 1993: 195). Pantun pertama kali muncul dalam Sejarah Melayu dan
hikayat-hikayat popular yang sezaman dan disisipkan dalam syair-syair
seperti Syair Ken Tambuhan. Pantun dianggap sebagai bentuk karma dari kata Jawa
Parik yang berarti pari, artinya paribahasa atau peribahasa dalam
bahasa Melayu. Arti ini juga berdekatan dengan umpama atau seloka yang berasal
dari India. Dr. R. Brandstetter mengatakan bahwa kata pantun berasal dari akar
kata tun, yang terdapat dalam berbagai bahasa Nusantara, misalnya dalam
bahasa Pampanga, tuntun yang berarti teratur, dalam bahasa Tagalog ada tonton
yang berarti bercakap menurut aturan tertentu; dalam bahasa Jawa kuno, tuntun
yang berarti benang atau atuntun yang berarti teratur dan matuntun yang
berarti memimpin; dalam bahasa Toba pula ada kata pantun yang berarti
kesopanan, kehormatan.
Van Ophuysen dalam Hamidy (1983: 69) menduga pantun itu berasal dari bahasa
daun-daun, setelah dia melihat ende-ende Mandailing dengan mempergunakan
daun-daun untuk menulis surat-menyurat dalam percintaan. Menurut kebiasaan
orang Melayu di Sibolga dijumpainya kebiasaan seorang suami memberikan ikan
belanak kepada istrinya, dengan harapan agar istrinya itu beranak. Sedangkan R.
J. Wilkinson dan R. O. Winsted dalam Hamidy (1983:69) menyatakan keberatan
mengenai asal mula pantun seperti dugaan Ophuysen itu. Dalam bukunya “Malay
Literature” pertama terbit tahun 1907, Wilkinson malah balik bertanya,
‘tidakkah hal itu harus dianggap sebaliknya?’. Jadi bukan
pantun yang berasal dari bahasa daun-daun, tetapi bahasa daun-daunlah yang
berasal dari pantun.
BAB III
A. Ciri-ciri Pantun
Abdul Rani
(2006:23) mengatakan bahwa ciri-ciri pantun sebagai berikut:
- Terdiri atas empat baris.
- Tiap baris terdiri atas 9 sampai 10 suku kata.
- Dua baris pertama disebut sampiran dan dua baris berikutnya berisi maksud si pemantun. Bagian ini disebut isi pantun.
- Pantun mementingkan rima akhir dan rumus rima itu disebut dengan abjad /ab-ab/. Maksudnya, bunyi akhir baris pertama sama dengan bunyi akhir baris ketiga dan baris kedua sama dengan baris keempat
Lain halnya menurut Harun Mat Piah (1989: 123-124)
dalam Bahan Ajar Sastra Rakyat (Elmustian, tanpa tahun:70-71), membagikan
ciri-ciri pantun menjadi dua aspek, yaitu aspek luaran dan dalaman. Aspek luaran adalah dari segi struktur dan ciri-ciri visual yaitu:
- Terdiri dari rangkap-rangkap yang berasingan. Setiap rangkap terjadi dari baris-baris yang sejajar dan berpasangan seperti 2,4,6,8 dan seterusnya. Rangkap yang paling umum adalah empat baris.
- Setiap baris mengandung empat kata dasar, dengan jumlah suku kata antara
- 8 hingga 10.
- Adanya klimaks yaitu perpanjangan atau kelebihan jumlah unit suku kata atau perkataan pada kuplet maksud.
- Setiap stanza terbagi kepada dua unit yaitu pembayang dan maksud.
- Mempunyai skema rima ujung yang tetap: a-b – a-b, dengan sedikit variasi a-a-a-a.
- Setiap stanza pantun adalah satu keseluruhan mengandung sifat fikiran yang bulat dan lengkap.
Ciri-ciri
dalamannya adalah:
- Penggunaan lambang-lambang tertentu mengikuti tanggapan dan pandangan dunia masyarakat.
- Adanya perhubungan makna antara pasangan pembayang dengan pasangan maksud, sama ada secara kongkrit atau abstrak atau melalui lambang-lambang.
Sedangkan menurut Suroto (1989: 43), ciri-ciri
pantun sebagai berikut:
- Pantun tersusun atas empat baris dalam tiap baitnya.
- Baris pertama dan baris kedua berupa sampiran.
- Baris ketiga dan keempat merupakan isi/ maksud yang hendak disampaikan.
- Jumlah suku kata dalam tiap baitnya rata-rata berkisar delapan sampai dua belas.
B. Syarat-syarat pantun
Menurut Effendy (1983:28), syarat-syarat dalam
pantun adalah:
a. Tiap bait terdiri dari empat baris
b.
Tiap baris terdiri dari empat atau lima kata atau terdiri dari delapan atau
sepuluh suku kata
c. Sajaknya
bersilih dua-dua: a-b-a-b. dapat juga bersajak a-a-a-a.
d. Sajaknya dapat berupa sajak
paruh atau sajak penuh
e. Dua baris pertama tanpa isi disebut sampiran, dua
baris terakhir merupakan isi dari pantun itu.
BAB IV
A. Jenis-jenis Pantun
Suroto (1989:44-45) membagi pantun menjadi dua
bagian yaitu:
b.
menurut isinya:
·
pantun anak-anak, biasanya berisi permainan.
· pantun
muda mudi, biasanya berisi percintaan.
·
Pantun orang tua, biasanya berisi nasihat atau petuah. Itulah sebabnya,
pantun ini disebut juga pantun nasihat.
·
Pantun jenaka, biasanya berisi sindiran sebagai bahan kelakar.
· Pantun
teka-teki
- menurut bentuknya atau susunannya:
·
pantun berkait, yaitu pantun yang selalu berkaitan antara bait
satu dengan bait kedua, bait kedua dengan bait ketiga dan seterusnya. Adapun
susunan kaitannya adalah baris kedua bait pertama menjadi baris pertama pada
bait kedua, baris keempat bait pertama dijadikan baris ketiga pada bait kedua
dan seterusnya.
·
Pantun kilat, sering disebut juga karmina, ialah pantun yang
terdiri atas dua baris, baris pertama merupakan sampiran sedang baris kedua
merupakan isi. Sebenarnya asal mula pantun ini juga terdiri atas empat baris,
tetapi karena barisnya pendek-pendek maka seolah-olah kedua baris pertama
diucapkan sebagai sebuah kalimat, demikian pula kedua baris yang terakhir.
Sedangkan Nursisto, dalam bukunya
ikhtisar Kesusastraan Indonesia (2000:11-14) pantun dibagi menjadi:
a) Berdasarkan isinya, pantun dibagi atas:
a. Pantun kanak-kanak
·
Pantun bersukacita
·
Pantun berdukacita
b. Pantun muda
·
Pantun nasib atau pantun dagang
·
Pantun perhubungan
-
Pantun perkenalan
-
Pantun
berkasih-kasihan
-
Pantun
perceraian
-
Pantn beriba
hati
·
Pantun
jenaka
·
Pantun
teka-teki
c. Pantun tua
·
Pantun adat
·
Pantun agama
·
Pantun
nasihat
b) Berdasarkan banyaknya baris tiap bait dibagi
menjadi:
· Pantun dua seuntai atau pantun
kilat
· Pantun empat seuntai atau pantun empat serangkum
· Pantun enam
seuntai atau delapan seuntai, atau pantun enam serangkum, delapan serangkum
(talibun).
Menurut Effendi (1983:29), pantun
dapat dibagi menurut jenis dan isinya yaitu:
1. pantun anak-anak, berdasarkan
isinya dapat dibedakan menjadi:
a. pantun bersukacita
b. pantun berdukacita
c. pantun jenaka atau pantun
teka-teki
2. pantun orang muda, berdasarkan
isinya dapat dibedakan menjadi:
a. pantun dagang atau pantun nasib
b. pantun perkenalan
c. pantun berkasih-kasihan
d. pantun perceraian
e. pantun beribahati
3. pantun orang tua, berdasarkan
isinya data dibedakan menjadi:
a. pantun nasihat
b. pantun adapt
c. pantun agama
Tetapi, Abdul Rani (2006:23-27) mengklasifikasikan
pantun berdasarkan isinya sebagai berikut:
1)
Pantun
Anak-Anak
a) Pantun anak-anak jenaka
b) Pantun anak kedukaan
c) Pantun anak teka-teki
2) Pantun Muda-Mudi
a) Pantun muda mudi kejenakaan
b) Pantun muda-mudi dagang
c) Pantun muda-mudi cinta kasih
d) Pantun muda-mudi ejekan
3) Pantun Tua
a) Pantun tua kiasan
b) Pantun tua nasihat
c) Pantun tua adat
d) Pantun tua agama
e) Pantun tua dagang
Contoh
pantun
- Pantun muda mudi
Contoh: Tanam melati di rama-rama
Ubur-ubur sampingan dua
Sehidup semati kita bersama
Satu kubur kelak berdua
2. Pantun teka-teki
Contoh: Kalau puan puan perana
Ambil
gelas di dalam peti
Kalaup
uan bijak laksana
Binatang
apa tanduk di kaki
3. Pantun jenaka
Contoh : Anak rusa di rumpun salak
Patah tanduknya ditimpa genta
Riuh kerbau tergelak-gelak
Melihat beruk berkacamata
4.
Pantun
berdukacita
Contoh: Ke
balai membawa labu
Labu amanat dari situnggal
Orang memakai baju baru
Hamba menjerumat baju bertambal
5.
Pantun
perkenalan
Contoh:
Sekuntum bunga dalam padi
Ambil batang cabut uratnya
Tuan sepantun langit setinggi
Bolehkah berlindung di bawahnya?
6.
Pantun
perceraian
Contoh
: Pucuk pauh selara pauh
Pandan
di rimba diladungkan
Adik jauh kakanda jauh
Kalau rindu sama menungkan
7.
Pantun nasib atau pantun
dagang
Contoh : Unggas undan si raja burung
Terbang ke desa suka menanti
Wahai badan
apalah untung
Senantiaa bersusah hati
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pantun adalah Puisi Indonesia, tiap bait (kuplet)
biasa terdiri atas empat baris yang bersajak (a-b-a-b) tiap larik
biasanya berjumlah empat kata; baris pertama dan baris kedua biasanya tumpuan (sampiran)
saja dan baris ketiga dan keempat merupakan isi; setiap baris terdiri dari 8-12
suku kata; merupakan peribahasa sindiran; jawab (pada tuduhan dan sebagainya)
Ciri-ciri pantun dapat dinyatakan yaitu pantun
tersusun atas empat baris dalam tiap baitnya.Baris pertama dan baris kedua
berupa sampiran.Baris ketiga dan keempat merupakan isi/ maksud yang hendak
disampaikan.Jumlah suku kata dalam tiap baitnya rata-rata berkisar delapan
sampai dua belas.
Jenis pantun dapat dibedakan berdasarkan tingkatan
umur pemakainya, berdasarkan isinya ,dan berdasarkan bentuknya atau
susunannya.
B. Saran
Saran yang dapat diberikan adalah hendaknya ilmu
tentang kesusastraan selalu digali dan dipelajari serta diterapkan, khususnya
tentang pantun oleh para sastrawan, ilmuan, dan lebih spesifik lagi oleh siswa
bahasa dan sastra Indonesia.
1.
Apa bila ada
kekurangan dalam punilasa karya tulis ini hendaknya guru dapat membimbing
2.
Saya
berharap kepada pembaca dapat memberikan saran yang positif terhadap karya
tulis.
3.
Saya menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih banyak terdapat
kekurangan dan kesalahan. untuk itu diharapkan kritikan dan saran yang bersifat
membangun untuk kesempurnaan karya tulis ini.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Rani, Supratman. 2006.
Intisari Sastra Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.
Effendy, M.
Ruslan. 1983. Selayang Pandang Kesusastraan Indonesia. Surabaya: PT. Bina Ilmu.
Hamzah, Amir. 1996. Esai dan
Prosa. Jakarta: Dian Rakyat.muhammad abdi
Laelasari dan Nurlailah.2006.
Kamus Istilah Sastra. Bandung: Nuansa Aulia.
Rahman, Elmustian dan Abdul
Jalil. Tanpa tahun. Bahan Ajar Sastra Rakyat. Pekanbaru: Labor Bahasa, Sastra,
dan Jurnalistik
RSS Feed
Twitter
04.16
Unknown
0 komentar:
Posting Komentar